Menjadi guru masa kini perlu memberi bentuk baru dalam hubungannya dengan anak didiknya, yaitu dan bentuk "power relationship" ke bentuk "shared relationship", yaitu dari posisi mengontrol ke posisi kerjasama. lsu yang kritikal dalam pendidikan bukan lagi bagaimana agar guru mampu mengontrol kelasnya, tetapi bagaimana agar anak didik kita terlibat langsung atau aktif dalam pern belajaran.
Prinsip ini mengingatkan kita bahwa seorang anak didik hanya tertarik untuk ikut aktif dalam pembelajaran jika pengajaran itu relevan. Pengajaran hanya akan relevan jika dihubungkan dengan konteks sosial dimana anak didik itu berada. Siswa aktif dalam konteks sosial yang relevan merupakan empat kata kunci sebagai bekal anak didik dalam menghadapi "rapid pervasive change" atau perubahan yang merembes dan meluber amat cepat dan "increasing interconnectedness" atau meningkatnya saling keterkaitan antar lembaga, individu, masyarakat, dan bahkan antar negara.
Inilah beberapa kiat bagaimana sebaiknya seorang guru bersikap dan bertindak, agar anak didiknya terlibat aktif secara konstruktif dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain bagaimana agar terjadi "effective instruction" atau pengajaran yang efektif (Townsed & Otero, 1999).
1) Pembelajaran teqadi pada puncaknya jika ekspektasi atau harapan dipusatkan pada keberhasilan.
2) Rasa takut bukanlah pemicu belajar yang efektif
3) Perubahan harus diyakini sebagai sesuatu yang selalu mungkin dicapai.
4) Kontrol hanyalah suatu ilusi.
5) Saling tergantung atau "interdependensi merupakan kunci menuju sukses.
Di antara lima kiat di atas, saya akan memberikan penjelasan tambahan pada kiat pertama yaitu yang berkaitan dengan "ekspektasi", karena kata ekspektasi memuat konsep yang sangat penting di dalam pembelajaran.
Colin Rogers (2002) mengungkapkan, selama sekitar 30 tahun, psikologi sosial pendidikan tak henti-hentinya menempatkan "teacher expectation" (harapan guru) sebagai pemegang peran yang sentral. Para peneliti yang memusatkan permasalahan penelitian mereka pada isu "sekolah yang efektif dan berkembang", mengamati "ekspektasi" sebagai kunci pendidikan dan pengajaran yang efektif.
Urnumnya mereka berkesimpulan bahwa ada hubungan yang kuat (powerful relationship) antara harapan yang tinggi dengan belajar yang efektif.
Rogers mengungkapkan "harapan yang tinggi" antara lain ditandai oleh adanya ketentuan mengenai "grade" atau niiai minimal yang harus dicapai anak didik dan jumlah hari kehadiran murid di kelas. Guru dan sekolah yang menetapkan kriteria harapan yang tinggi dalam kriteria murid, biasanya akan membuat perencanaan, strategi, aturan, dan tindakan yang efektif untuk memenuhi harapan tersebut.
De Bono, penulis yang membahas tentang berpikir lateral dan kreatif, merujuk Singapura sebagai salah satu negara yang berkembang sangat pesat, karena menurut pengamatannya Singapura mempunyai "the strong determination to succeed" atau dorongan yang sangat kuat untuk berhasil. Bukankah "keinginan yang kuat untuk bertiasil" sama sebangun dengan "high expectation"?
untuk lebih lanjut kami akan kirim semua artikel yang kami punya tentang pendidikan melalui E-mail atau lihat ( saran & kritik ) pada site kami